SDA (Sumber Daya Alam) Indonesia dimiliki, bukan memiliki

Oleh : Renaldy Akbar

Ketika kami menjadi bodoh, mereka telah lama terhina. Mereka menjadi banyak. Menjadi sangat menyeramkan. Bukan karena wajah yang terkutuk, tapi karena hati yang membusuk.

Dari proyek ke proyek layaknya sebuah dagangan. Mencari untung sebanyak mungkin. Mencari jalan selicik mungkin, agar semua tertutup. Mereka lalu menari diatas uang. Merasakan uang,uang, dan uang. Ketika negara ini menjadi boneka, mereka mendadak tuli. Mungkin tak banyak rakyat yang paham tentang perdagangan bebas. Hal yang sebetulnya merugikan. Perusahaan dikuasasi asing. Bahkan dikendalikan oleh pihak asing. Produksi dalam negeri menjadi merunduk. Baik dari pertanian, perternakan, juga minyak dan gas menjadi senjata ampuh untuk diputar balikan faktanya.

Siapa yang tak kenal Indonesia dengan hasil alam yang berlimpah juga tanah yang subur? Sebuah pertanyaan besar bagi Indonesia. Mengapa kita justru lebih banyak mengimpor hasil tani dari pada mengekspornya?  Ini negara Indonesia dengan tanah subur yang dapat memproduksi, bukan minta hasil produksi. Pakailah jasa petani lokal, bukan menggesernya. Sebagian petani harus terpaksa gulung tikar karena biaya tanam melonjak naik dari tahun ke tahun. Tidak ada perhatian khusus dari pemerintah untuk menjagokan hasil pertanian di Indonesia. Tidak pada nyatanya bahwa pemerintah memperdulikan hasil pertanian. Mungkin iya, tapi sebatas lewat media. Tidak sampai ke para petani.

Dari sabang sampai maroke, tanah subur terbentang. Begitu banyak ditanami sayur mayur, beras, dan lain sebagainya. Ironis jika para pengurus negeri tidak mengurusnya dengan baik. Menelantarkan hasil alam yang jelas ada. Hasil alam ini sudah dikuasai pihak asing. Siapa yang memberi izin jika bukan para pengurus-pengurus egois. Pengurus yang mementingkan kelompok tertentu. Yang ingin menang diatas penderitaan.

Pembebasan tanah demi membuat suatu perusahaan yang jelas bukan asal dari negeri sendiri. Negeri ini seperti diduduki. Dijajah secara perlahan. Dikuras terus menerus hasil alam yang ada. Lalu, efek untuk petani nol besar. Tidak ada jaminan untuk bisa hidup layak. Siapa yang menjabat dialah berkuasa atas apapun dan dimanapun tanahnya. Petani bak angin yang berlalu. Hanya diawal terlihat manis. Sudah bodoh, dibodohi pula. Runyamlah negeri ini.

Tatkala hasil perternakan. Sama nasibnya dengan hasil pertanian. Lebih memilih untuk mengimpor. Bukan karena kualitas Perternakan kurang baik, melainkan berdiri diatas duri. Tidak diperhatikan agar terkesan tidak berkualitas.

Minyak dan gas pun ikut terimbas dari keserakahan manusia. Harga minyak melambung tinggi. Rakyat hanya tahu karena harga minyak dunia yang tinggi. Dan mengharapkan pemakluman. Padahal jika kita bisa melihat lebih luas apa yang terjadi. Jauh sekedar dari permasalahan harga minyak dunia saja. Ternyata, hasil minyak dan gas di Indonesia bukan seluruhnya milik negeri Indonesia. Tapi beberapa pihak asing juga memegang kendali. Turut serta memiliki. Akibatnya, pasokan untuk Indonesia menjadi berkurang.

Ini jelas terjadi selama mudahnya pihak asing menanamkan modal di Indonesia tanpa keuntungan yang signifikan. Semua dilahap pihak asing. Proyek-proyek disana-sini menjadi kuasa asing. Tidakah kita mampu untuk melakukanya? Wajar jika banyak orang-orang pintar di Indonesia lebih memilih untuk bekerja di luar negeri, karena jaminan orang pintar yang bermanfaat diluar lebih dapat terjamin. Sepatutnya Indonesia harus lebih menghargai orang pintar asal negara sendiri. Bukan mengandalkan pihak asing untuk mengutak-atik semuanya. Percuma ada lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri tanpa memanfaatkan kualitas negeri sendiri. Hargailah mereka yang pintar dan berjiwa nasionalisme.

Pemerintah dibuat bukan karena sebuah kecerdasan dan intelektual belaka. Pemerintah dibentuk untuk menyelasaikan masalah yang jelas terjadi, bukan memunculkan masalah baru. Berhentilah membodohi rakyat dengan alasan-alasan yang berkesan bijak. Lakukan atas dasar nasionalisme bukan hanya sekedar tugas kenegaraan. kami berharap lebih bagi kalian yang berkoar masalah kesejahteraan, kesehatan juga pendidikan di depan rakyat. Kami memilih, karena berharap. Bukan sekedar perubahan, tapi perbaikan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s